Sabtu, 08 Desember 2007

Artikel di Media Massa

FORUM

Akademia KOMPAS Yogyakarta

26 Oktober 2007

Ubah Urbanisasi Jadi Transmigrasi

Oleh Vivit Nur Arista Putra

Jakarta tetap menarik bagi pendatang untuk mengadu peruntungan. Menyelami labirin dalam lika-liku kehidupan yang tak pasti. Fenomena ini seakan telah menjadi tradisi pascaarus balik tiap tahun. Dengan modal nekat dan pas-pasan tanpa keahlian dan keterampilan yang dimiliki, mereka mengadu nasib di sana. Padahal, tak ada jaminan kerja pasti yang menunggu. Mengapa mereka memilih Jakarta, bukan kota lain? Umumnya mereka terpikat cerita teman atau sanak saudara mengenai gegap gempita ibu kota dengan modernisasinya. Yang memberi celah dan menyisakan harapan hidup dengan setumpuk lapangan kerja dan upah lebih tinggi ketimbang di desa.

Faktor pendorong lainnya adalah tak banyaknya pilihan pekerjaan karena tingkat pendidikan yang rendah membuat mereka hijrah ke kota. Semakin banyaknya kaum pendatang menambah ketatnya peta persaingan memperebutkan dunia kerja. Belum lagi risiko yang siap ditanggung kota terpadat di Indonesia ini. Para pekerja yang kalah dalam persaingan mendapatkan pekerjaan akan menambah daftar pengangguran warga ibu kota. Operasi yang dilakukan pemerintah DKI pun dirasa kurang efektif dan tidak akan membendung arus urbanisasi. Kini yang harus dilakukan pemerintah adalah menyiapkan program transmigrasi dengan memanfaatkan momentum urbanisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyosialisasikan kepada masyarakat tentang peluang kerja dan tempat kerja yang cocok mereka tempati.

Seperti Sumatera Utara dan Nias pascadilanda gempa dan tsunami, di sana banyak jalan dan infrastruktur rusak berat yang membutuhkan banyak tenaga kerja untuk perbaikan. Prospek kerja lain yang menggiurkan adalah kelapa sawit sebagai bahan bakar biofuel yang 70 persen ada di Sumatera dan Kalimantan, yang beberapa tahun ke depan akan banyak membuka lapangan kerja. Membangun ketransmigrasian bukanlah dalam rangka konsep membangun fasilitas kota dengan segala aktivitas ekonominya. Perilaku individu transmigranlah yang menempatkan diri sebagai "pelopor" interaksi sosial bagi aksesibilitas ekonomi untuk bermasyarakat dengan penduduk setempat.

Tanpa disadari, hal itu telah menumbuhkembangkan pusat ekonomi baru, menjadikan masyarakat urban dan membentuk secara fisik keberadaan infrastruktur dan fasilitas permukiman kota. Kini tinggal tergantung pemerintah kita mampu tidak memanfaatkan hal ini untuk mengalihkan urbanisasi ke Jakarta, dengan mengganti transmigrasi dan melaksanakan program kerja yang pro rakyat.

Vivit Nur Arista Putra

Jurusan Administrasi Pendidikan

Fakultas Ilmu Pendidikan

Universitas Negeri Yogyakarta

Berkawan Sunyi

Seharian.. Sendirian..

Waktu menunjuk 22.30 malam

Aku terbaring seorang diri

Kesepian

Merenungi

Merefleksi sebuah perjalanan

Melintasi waktu

Merubah laku

Bertempat sang pengatur kehidupan

Aku menghibur diri

membaca Qur’an

Hingga beranjak juz delapan

Aku terlelap saat anganku terbang

Terjaga sebelum adzan berkumandang

Dan kembali menikmati pagi

Sendirian…

Kesepian…

Vivit Nur Arista Putra

Rumah Allah, Yogyakarta 6 Desember 2007 07.00

Jumat, 07 Desember 2007

Opini Pembaca

Media Indonesia, Oktober 2007

PSSI Butuh Pemimpin Baru?


Ibarat kapal yang ditinggalkan nahkodanya, niscaya kapal itu tak dapat melaju dengan sempurna.
Untaian kata di muka tampaknya klop dengan kondisi PSSI yang ditinggal “pergi” Nurdin Halid paling tidak dalam jangka waktu dua tahun ke depan lantaran terseret kasus penggelapan duit pendistribusian minyak goreng yang memaksanya harus mendekam di LP Cipinang. Fakta pahit ini membuat jajaran organisasi sepakbola nasional ramai membicarakan siapa yang layak menduduki singgasana PSSI ke depan. Meskipun untuk sementara, secara otomatis akan diisi oleh Nirwan Dermawan Bakrie selaku Wakil Ketua Umum merangkap menjadi pelaksana tugas Ketua Umum.
Akan tetapi, dengan berhalangan tetapnya si tokoh Bone itu karena tak bisa menandatangani surat , memimpin rapat serta berhubungan dengan pihak luar, mau tak mau lembaga ini butuh sosok pemimpin pengganti yang bisa menjadi panutan, fokus, dan mempunyai komitmen yang besar untuk melaksanakan program kerjanya ke depan guna mengangkat PSSI dari masa kelam dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk memperbaiki citra dan muka PSSI di mata AFC dan FIFA serta mempertimbangkan ketua umum PSSI tidak bisa melaksanakan tugasnya selama lebih dari enam bulan lebih karena dipenjara, keputusan tepat yang perlu diambil segera oleh PSSI dan Executive Committee (Exco) adalah secepatnya memecat Nurdin Halid. Jika lama menanti surat pengunduran Nurdin, segala agenda PSSI mulai dari Pelatnas Timnas U-16 hingga senior sampai urusan kompetisi akan terkatung-katung dan menggantung. Kita seharusnya malu jika PSSI dipimpin oleh terpidana, bahkan mantan Sekjen AFC David Vellapan pun mengatakan PSSI seperti ayam kehilangan induknya. Untuk itu perlu diselenggarakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) sebagaimana terteta dalam AD/ART tahun 1999 untuk menentukan siapa pemimpin anyar yang akan membawa lembaga sebakbola tertua ini ke depan. Atau, menyerahkan sepenuhnya kepada tiga belas anggota Exco. Pelbagai calon pun telah direkomendasikan, seperti Nirwan Bakrie (pengusaha), Arifin Panigoro (pengusaha), Erwin Sudjono (Kasum TNI) hingga tak ketinggalan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Hatta Rajasa.

Dari beberapa bakal calon yang diapungkan diatas tadi, PSSI harus lebih tepat lagi dalam memilih dan memilah. Kriteria-kriteria pemimpin baru ini pun harus lebih dipertimbangkan lagi dengan matang. Sebagai lembaga tertinggi sepakbola nasional, para insan bola tentunya menginginkan ketua yang tahu tentang bola dan basic-nya pun dari bidang olahraga. Bukan politisi, pengusaha maupun saudagar, bahkan TNI yang hanya menang duit dan punya sekutu orang dalam yang kemudian menjadikan pekerjaan ini sebagai profesi sambilan. Imbasnya, para pemimpin itu cuma dapat berpikir cetek atau dangkal. Dengan memanfaatkan pos yang didudukinya dengan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Tanpa berpikir panjang ke depan demi kemaslahatan dan kemajuan organisasi. Walaupun calon pengganti adalah orang-orang yang gila bola tetapi dilihat dari gawean-nya sehari-hari, mereka jelas super sibuk. Apalagi didobel menjabat sebagai Ketua PSSI jelas ini akan membuat konsentrasi dan fokus kerja terbelah. Kesadaran pribadi akan pekerjaan tampaknya perlu diingatkan, dan pelbagai profesi sambilan pun perlu ditiadakan. Karena ini menyangkut perbaikan masa depan PSSI khususnya dan kemajuan sepakbola nasional umumnya.


Vivit Nur Arista Putra

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

Opini Pembaca


Media Indonesia, September 2007

Sedih dan Indahnya Ramadhan

Tak terasa puasa ramadhan telah sepekan lebih berlalu. Seluruh umat muslim menjalaninya dengan tenang dan damai di kediaman masing-masing. Makan sahur dan berbuka bersama keluarga bertemu di ruang makan dalam suasana hangat setiap harinya. Berterawih jamaah di masjid secara saksama. Tetapi tahukah anda? Di luar sana? saudara kita lainnya tak bisa menikmati hari-hari puasanya dengan nyaman karena diserang bencana. Ya, jauh dari kita, di Bengkulu, Padang dan Sulawesi sana, mereka sahur dan berbuka beratap langit ditemani hunianya yang roboh rata dengan tanah di sekelilingnya. Sebanyak lima ribu rumah rusak berat dan ringan di Bengkulu. Bahkan di hari pertama mereka terpaksa makan sahur di tepi trotoar dan tenda-tenda. Entah cobaan atau ujian yang diberikan oleh Nya. Dan kita, hanya bisa memetik hikmah dan pelajaran berharga dari setiap musibah

Disadari atau tidak, hati kita baru tergugah, saat iba menyaksikan saudara kita dirundung bencana. Solidaritas pun mulai tumbuh di berbagai kota guna meringankan beban mereka. Di jalanan para mahasiswa bersatu menggalang dana, media massa dan yayasan peduli gempa pun tak mau kalah dengan beramai-ramai membuka rekening peduli gempa.

Nan jauh disana, di Timur Tengah, Kashmir, Narathiwat dan daerah lainnya yang tak pernah absen dengan konflik dan peperangn, kini sejenak reda dan tak terdengar lagi ada korban jiwa. Masyarakat muslim di sana lebih menyibukkan diri untuk ibadah di bulan penuh berkah dan ampunan ini. Bahkan, kelompok bersenjata Front Pembebasan Islam Moro menawarkan pembicaraan damai dengan pemerintah Filipina selama ramadhan ini. Di Irak, militer AS memulai program pembebasan lima puluh sampai delapan puluh tahanan setiap harinya selama ramadhan. Mungkin inilah keajaiban dibulan terindah daripada sebelas bulan lainnya. Semoga hal ini terus berlanjut di bulan berikutnya. Iba dan peduli bukan karena prahara melainkan wujud kepahaman kita bahwa Islam mengajarkan kita untuk mencintai sesama manusia, dan damai tak hanya di bulan ini saja tapi berlanjut hingga bulan-bulan berikutnya. Amin.


Vivit Nur Arista Putra

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta




Legalisasi Ganja

SUARA MAHASISWA, Legalisasi Ganja
Kamis, 05/07/2007 Harian SEPUTAR INDONESIA
AKHIR-AKHIR ini kita sering mendengar dan melihat di berbagai media massa yang menyuguhkan berita seputar legalisasi ganja.Warta ini menyisakan polemik yang menuai komentar dari berbagai kalangan.

Di satu sisi, mereka mendukung pemerintah melegalkan tanaman ini untuk dikonsumsi, tentunya dengan batasan-batasan tertentu. Sebab, ada manfaat dan kegunaan lain dari pohon ganja. Di Aceh, misalnya, merupakan pusat ladang dan penyuplai ganja terbesar ke pelosok Indonesia.

Masyarakat di sana banyak menggunakannya sebagai bumbu masak, dodol, dan kopi ganja, bahkan batang ganja dapat dibuat menjadi tas dan kerajinan lainnya. Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Indonesian National Institute on Drugs Abuse (INIDA) pun kini sedang melakukan riset guna mengetahui manfaat lain dari daun ganja.

Meski demikian,ganja tetaplah ganja.Barang itu terlarang di Indonesia sebagaimana tertera dalam UU No 5/1997 yang memasukkan ganja (Canabis sativa) dalam golongan narkotik.Sebab, ganja mengandung zat adiktif (Tetrahydrocannabinol) THC yang dapat memabukkan bagi siapa yang salah dalam menggunakannya.

Polisi pun akan menangkap siapa saja yang ketahuan membawa, mengonsumsi, dan mengedarkan barang haram itu.Alasan mendasar sebagian orang mendukung terealisasinya legalisasi ganja karena menurut mereka banyak manfaat atau kegunaan lain yang bisa didapat.

Alasan lainnya,ganja tidak memberikan efek yang sedemikian parah bagi tubuh kita dibandingkan rokok,narkoba,morfin, pil koplo,dan minuman keras yang dapat merusak paru-paru, otak, dan syaraf serta mengakibatkan serangan jantung,impotensi dan lainnya.Adapun di luar negeri, ganja dimanfaatkan dan diolah oleh dunia industri dan kedokteran menjadi obat bius yang dapat menenangkan seseorang yang membutuhkan pertolongan.

Ditinjau lebih jauh, pengguna ganja biasanya malas-malasan, sakau, depresi, ketakutan, koordinasi tubuh tidak normal,dan mengalami gangguan emosional karena syaraf otaknya terganggu. Selain itu, kita juga jarang mendengar pemakainya meninggal dunia.

Coba tengok korban akibat berlebihan mengonsumsi narkoba, narkotik, sabu-sabu, morfin, pil koplo, rokok, dan miras yang selalu bertambah setiap tahunnya. Moral dan etika generasi muda pun menjadi rusak karenanya. Untuk menanggulanginya, pemerintah akan mencanangkan hukuman mati bagi siapa saja yang bergaul dengan narkoba. Jadi, kalau barang semacam itu dinyatakan dilarang,mengapa tidak disegel dan ditutup saja pabriknya.

Jikalau legalisasi ganja menjadi diratifikasi, pemerintah harus berani menanggung konsekuensinya. Mau jadi apa bangsa ini jika sabu-sabu, narkoba, morfin dibiarkan beredar di mana-mana,pemabuk bebas minum miras di mana saja, belum lagi masyarakat leluasa menikmati ganja.

Di jalan, terminal, sekolah, kampus, dan tempat-tempat umum lainnya tanpa memedulikan tempat yang tepat untuk mengonsumsinya. Pemerintah perlu berpikir sepuluh kali bahkan lebih untuk melegalkan ganja karena ini menyangkut masa depan bangsa.(*)

VIVIT NUR ARISTA PUTRA
Mahasiswa Jurusan Administrasi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta