Lestari Tradisi Literasi

Senin, 22 Oktober 2012

Evaluasi Pemberian Grasi

Dimuat di Republika Jogja, 23 Oktober 2012
Putusan peninjauan kembali MA dan pemberian grasi presiden terhadap terpidana mati kasus narkoba Hengky Kurniawan (HK) dan Deni Setia Maharwa (DSM) seakan antiklimaks dengan perjuangan melawan narkoba selama ini. MA mengubah hukuman HK menjadi 15 tahun penjara dan DSM mendapatkan ampunan menjadi kurungan badan seumur hidup. Beberapa silam, Presiden juga memutuskan grasi bagi Schapelle Corby (ratu mariyuana Australia). Jika dibaca latar kebijakannya, motif politik menjadi pendorongnya. Dampaknya beberapa tahanan warga negara Indonesia dibebaskan dari terali besi di negeri Kanguru.
Menurut istana ada seratus lebih permohonan grasi ke presiden, tapi mayoritas ditolak. Sementara untuk kasus DSM, kepala negara mempertimbangkan hak asasi manusia untuk hidup. Jika difikir matang, memberantas mafia narkoba dan jaringannya juga menjunjung generasi muda untuk hidup berkelanjutan. Pasalnya yang terkena sindrom narkoba dominan para remaja. Maka mengurangi hukuman terpidana narkoba yang terkait sindikat narkoba internasional, sangatlah menyakiti hati rakyat Indonesia yang berkomitmen menjauhkan anaknya dari barang haram tersebut.
Kendati secara konstitusi ada dalil hukumnya Pasal 14 ayat 1 UUD 1945 “Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan pertimbangan mahkamah agung”. Tetapi presiden juga harus mengingat kesepakatan pemimpin ASEAN dalam 4 April 2012 yang tertuang dalam ASEAN Leaders Declaration on Drug Free ASEAN 2015
. Pada pertemuan itu, setiap negara di asia tenggara mengakui masalah narkoba tetap menjadi salah satu masalah keamanan utama. Karena imbasnya yang kuat merusak struktur sosial bangsa dan dapat berpengaruh pada tindakan kriminal yang mengancam stabilitas negara.
Oleh sebab itulah, disepakati roadmap kerja 2009-2015 ASEAN bebas narkoba. Koordinasi masif dan penegakan komprehensif untuk meminimalisir produksi dan peredaran obat terlarang. Tetapi itu semua dibutuhkan komitmen kuat dan tindakan tegas setiap kepala negara untuk memberantas mafia dan gembong narkoba, tak sekadar distributornya. Jika presiden SBY terus menerus obral grasi, tak hanya masyarakat sipil. Negara lain mungkin akan mempertanyakan keseriusan Indonesia membumihanguskan narkoba dan variannya.
Rapor buruk di ASEAN selama ini alur peredarannya memang berpangkal pada segitiga Laos, Thailand, dan Myanmar. Tetapi besarnya demografi, Indonesia dipandang merupakan pangsa pasar potensial guna mencari keuntungan. Perkara ini menjadi tantangan petugas bea cukai dan keimigrasian untuk semakin teliti dan sigap mengawasi arus peredaran barang dan manusia. Apalagi ke depan akan dibentuklah masyarakat ASEAN layaknya uni Eropa, di mana setiap orang dapat lalu lalang ke pelbagai negara ASEAN dengan bebas tanpa visa.
Sebagai evaluasi dan koreksi atas kebijakan presiden, publik dapat menyampaikan aspirasi kepada dewan perwakilan rakyat agar dapat menggunakan hak interpelasi (hak bertanya), hak menyatakan pendapat, hingga hak angket (untuk penyelidikan). Sekadar pengingat data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan, jumlah pemakai narkoba sudah mencapai 3,8 juta orang. Bahkan Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) mencatat jumlahnya hingga 5 juta jiwa. Rinciannya 70 persen pecandu narkoba masih bersekolah dengan rentang usia 14-20 tahun. Jika tak ingin bertambah, presiden selaku penanggung jawab tertinggi dan terbesar hajat hidup bangsa ini, harus komitmen terhadap ucapannya selama ini. Berantas narkoba.
Vivit Nur Arista Putra
Aktivis KAMMI Sleman dan
Pusaka Pendidikan

Selasa, 02 Oktober 2012

Rohis bukan Teroris

Dimuat di Republika Jogja, 2 Oktober 2012
Dua pekan terakhir media banyak menyorot ditangkapnya beberapa orang terduga teroris oleh Detasemen khusus (Densus 88) di Solo. Bombastisnya arus pemberitaan ini membuat televisi swasta nasional, menyimpulkan tanpa dasar pola rekrutmen teroris kini menyasar generasi muda melalui aktivitas rohis di sekolah. Sontak, aktivis rohis dan lembaga dakwah kampus pun menuntut Metro Tv untuk meminta maaf atas informasi salah tersebut. Ihwal ini membuat identitas umat muslim terusik dan selalu menjadi kambing hitam atas tindakan kekerasan yang dilakukan kalangan ekstremis yang salah menafsirkan makna jihad dalam kitab suci.
Keresahan inilah yang melatari Zuhairi Misrawi membukukan kumpulan tulisannya dalam “Pandangan Muslim Moderat”. Intelektual muda ini menolak jika agama dijadikan sebab atau faktor pendorong seseorang berbuat kekerasan (violence). Terorisme tidak bisa dikaitkan dengan agama, karena yang bermasalah bukan agama. Tetapi umat yang kurang tepat memahami doktrin agama, tidak kontekstual, dan bernuansa kekerasan. Sebab itu, yang perlu mendapat perhatian seksama adalah kualitas pemahaman umat terhadap agama (hal 93).
Menurut Earl Conteh-Morgan (2004), terorisme adalah akumulasi penindasan, peminggiran, dan penderitaan. Mereka yang didiskriminasikan secara konstitusional dan tidak mendapatkan kebebasan sebagaimana kebanyakan masyarakat, biasanya menjadi faktor determinan meluaskan terorisme. Karena semula para teroris berasal dari kelompok minoritas yang terpinggirkan, tetapi akhirnya membentuk kelompok yang bisa menjadi mayoritas.
Pemerintah agaknya perlu mereformasi penanganan terhadap terorisme. Kenapa harus ditembak mati jika dapat ditangkap hidup, ditelisik, dan dilakukan pengembangan untuk mengidentifikasi pelaku lainnya. Selain itu, keterlibatan publik juga mutlak diperlukan agar jangan berprasangka negatif terhadap sesama muslim dan mengalienasi atau mengucilkan eks teroris serta keluarganya dari lingkaran masyarakat.
Oleh sebab itu, dalam buku ini penulis menawarkan. Pertama, perlunya penyadaran yang intensif, terutama di tempat ibadah agar umat menjauhi berbagai aksi terorisme dan kriminalitas. Agama adalah nasihat yang mengajarkan kedamaian bukan kerusuhan. Kedua, perlunya komunikasi persuasif terhadap mereka yang terdeteksi melakukan terorisme. Sebab, para teroris adalah mereka yang hidupnya terbatasi terutama dari segi komunikasi. Karena itu, mereka perlu memperoleh pendekatan yang lebih tepat, terutama yang terlibat jaringan terorisme yaitu kalangan muda. Mereka harus didekati dengan cara-cara yang lebih sesuai dengan kejiwaannya (hal 127).
Tindakan ekstrem bukanlah dilatari dorongan agama melainkan juga secara akar sosiologis. Versi Khaled Abou el Fadl yang paling kentara adalah faktor modernitas yang berakibat liberalisasi yang menyengsarakan rakyat. Selain itu, maraknya ekstremis juga berkaitan dengan tren hipnotis atau indoktrinasi isme yang berorientasi kekerasan. Tidak menutup kemungkinan, apa yang diperbuat Syarif dengan melaksanakan bom bunuh diri di rumah ibadah di Solo lantaran dangkalnya kefahaman terhadap Islam sehingga mudah disusupi fikiran-fikiran radikal. Jika pemuda tersebut memahami kaidah fiqih dan hadist, kaum muslimin dilarang berperang dan membunuh lawannya di masjid. Bahkan merusak gereja pun tak diizinkan baginda Nabi.
Pada topik ini, hikmah penistaan Islam melalui stempel buruk rohis justru dapat menyatukan umat untuk membela keagungan geliat aktivitas keagaamaan, dan selalu menuntut ilmu serta mengamalkan. Untuk membuktikan bahwa Islam tak seperti yang mereka katakan.
Vivit Nur Arista Putra
Aktivis KAMMI Daerah Sleman
Direktur Eksekutif Lingkar Studi Muballigh

Sabtu, 08 September 2012

Puasa, Pemaaf, dan Peminta Maaf

Dimuat di Buletin RESOLUSI, September 2012
Puasa seakan divisualisasikan memperlemah tubuh dengan lapar dan dahaga. Iklan di televisi mengatakannya dengan berbagai jargon produk makanan dan minuman. Maaf penulis sebut merk dagang seperti Okky Jelly Drink “penahan dan penunda rasa lapar”, Promaag “jika anda berpuasa mengalami gangguan pencernaan, minumlah Promaag”, atau Pocari Sweat dan Mizone yang gencar menawarkan minuman penambah hidrogen dan ion tubuh saat Ramadhan. Pengaruh media massa ini memengaruhi cara pandang setiap orang. Bahkan pemerintah daerah pun membuat kebijakan memangkas waktu kerja bagi PNS di bulan Ramadhan, masuk jam delapan dan pulang jam dua belas. Cara pandang tersebut memberikan kesimpulan seakan puasa menghambat progesifitas dan produktivitas kerja.
Padahal perubahan besar dalam menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini terjadi di syahru Ramadhan. Kemenangan perang Badar yang membangkitkan mental kaum muslimin untuk lepas dari ketertindasan kafir Quraisy, Fathul Makkah (penaklukan Mekkah) yang berakibat berbondong-bondongnya warga Mekkah masuk Islam, Muzaffar Quthus menaklukkan pasukan Tartar dalam perang Ain Jalut, Shalahudin Al Ayubi mengusir pasukan salib dari Palestina dalam perang Hithin, dan kemerdekaan republik Indonesia kesemuanya terjadi pada bulan Ramadhan. Penyebabnya adalah kemenangan yang satu mendahului yang lain. Kemenangan pertama adalah kemenangan di alam jiwa, kemenangan di alam roh yang mempunyai satu rahasia; puasa. Ya, puasa yang berdampak pada kemenangan di alam nyata.
Berasa lapar dan dahaga saat puasa itu lumrah dan manusiawi. Tetapi itu dampak fisiologis bukan bagian orientasi amalan. Kita harus membedakan dampak dan orientasi. Sejatinya orientasi puasa ialah menempa ruhiah insani bukan ragawi. Ihwal ini dapat tercermin dari firman Ilahi “hai orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (Al Baqarah: 183). Perhatikan, Allah menggunakan kata “orang-orang beriman” bukan orang-orang berIslam. Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Iman menuturkan ketika mendedah hadist kedua Arba’in An Nawawi substansinya menunjukkan derajat sistematis yakni ihsan, iman, dan Islam. Jadi rutinitas puasa Ramadhan ditekannya kepada orang yang beriman tanpa terkecuali orang yang berIslam. Karena orang yang beriman pasti berIslam, tetapi orang berIslam belum tentu beriman. Wallahualam. Kata takwa mendefinisikan sisi ruhiyah yang diproses bukan fisik. Tarikh Islam mengisahkan, “hai Ubay apakah makna takwa?” tanya Umar bin Khatab. “Bagaimana jika kamu berjalan melewati jalan yang onak dan duri” tanya balik Ubay bin Ka’ab. “Tentu aku akan berhati-hati” tandas Umar. “Itulah takwa, penuh dengan kehati-hatian dalam menjalani hidup” jelas Ubay.
Di kutub lain, jika dicermati pada akhir Al Baqarah: 183 Allah menegaskan tujuan puasa agar kamu menjadi orang bertakwa yang memakai fi’il mudhorik (kata kerja yang akan datang). Jadi hakikat takwa tak hanya tumbuh di bulan Ramadhan saja, tapi di manapun, kapanpun dan di bulan berikutnya. Kita tentu familiar dengan kalimat yang dilontarkan khatib pada setiap khutbah Jum’atnya itaqillaha khaitsuma kunta
(bertakwalah di manapun kamu berada). Maka menjadi evaluasi kaum muslimin pada umumnya apakah setelah puasa level ketakwaannya semakin meninggi, stagnan, ataukah menurun.
Amalan Nabi di Syahrul Syawal
Ramadhan usai, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa menjabarkan para sahabat saling melantunkan taqaballahu minna wa minkum (semoga Allah menerima amalan kami dan kalian). Jawabannya ialah minna wa minkum taqabal yaa karim (dari kami dan kalian terimalah amalan wahai dzat yang Maha Mulia). Sebenarnya ucapan kalimat di muka ialah isi khutbat sholat Ied Nabi, tetapi kemudian setelah usai dicontoh para sahabat dan Rasul pun mentaqrir (menyetujuinya) sehingga menjadi sunah hasanah.
Sahabat berdoa demikian karena puasa merupakan amalan sirri (tersembunyi) dan dipenuhi ketidakpastian apakah segala Ramadhan akan diterima Allah atau ditolok. Para ulama pun penuh rasa khauf (rasa takut) dan raja’ (penuh harap). Takut kalau amalannya tidak diterima dan penuh harap agar diterima amalannya dengan bermunajat kalimat doa di muka.
Imam Ahmad bin Hambal berkata “aku tidak mendahului mengucapkan selamat (tahniah) hari raya pada seorang pun. Namun, kalau ada yang mengucapkan selamat hari raya kepadaku aku akan membalasnya”. Imam Ahmad melakukan ini karena hukum mengucapkan salam atau selamat dengan menjawabnya berbeda. Mengucapkan salam adalah sunnah dan membalasnya adalah wajib. Allah berfirman “apabila kamu diberi salam penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau setara dengannya. Sungguh Allah maha menghitung segala sesuatu” (An Nissa”: 86). Kesimpulannya adalah seseorang yang mendahului tahniah memiliki qudwah (teladan), begitupun yang menjawabnya juga mempunyai qudwah (teladan).
Adapun ucapan minal aidin wal faizin yang sering kita temui di baliho atau pernyataan pejabat di surat kabar dan televisi, bukanlah bermakna mohon maaf lahir dan batin. Sebenarnya kata tersebut merupakan penggalan dari kalimat ja’alanallahu waiyyaakum minal’aaidin wal faaizin (semoga Allah menjadikan kita kembali suci dan meraih kemenangan), sedangkan kata idul fitri ada dua penafsiran. Pertama ada yang menyatakan ‘kembali ke fitrah atau suci’. Kedua ada yang menjelaskan idul fitri bermakna ‘kembali makan’. Fitri berasal dari kata afthara, yafthiru berarti makan. Karena makan ialah pertanda bahwa puasa Ramadhan telah usai dan merupakan wujud rasa syukur karena manusia telah melaksanakan kewajiban puasa selama sebulan penuh. Ihwal ini sesuai sabda Nabi Diriwayatkan Abu Ubaid, “... hari raya Fitri adalah hari berbuka puasa (makan) kalian dan hari raya Adha kalian adalah makan daging yang kalian sembelih di hari itu." (H.R. Ibnu Majah).
Oleh sebab itulah, Ibnu Qayyim dalam Zaadul Ma’ad mengatakan “Nabi Muhammad saw biasa mengakhirkan sholat idul fitri dan mempercepat pelaksanaan sholat idul adha”. Adapun hikmahnya kaum muslimin diminta lebih siang sholat idul fitri karena Nabi menganjurkan makan terlebih dahulu sebagai tanda puasa selesai, dan memerintahkan lebih pagi sholat idul adha agar dapat segera menyembelih kurban.
Amalan Nabi Muhammad saw di bulan Syawal adalah puasa enam hari di bulan syawal. Diriwayatkan dari Abu Ayub Al Anshari, Nabi bersabda “sesiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seolah berpuasa sepanjang masa” (H.R. Jama’ah kecuali Bukhari dan Nasa’i). Sa’id Hawwa dalam Al Islam mencoba mengkalkulasi hadist di muka, jika setiap amalan dibalas Allah 10 kali ganjaran pahala. Maka 30 hari puasa Ramadhan X 10= 300 ditambah 6 hari puasa Syawal X 10= 60. Hasil akhirnya 300+60= 360. Kenapa tidak sampai 365 hari, karena ada hari-hari lain yang dilarang untuk berpuasa yaitu idul fitri, idul adha, dan tiga hari Tasyrik.
Syekh Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan, menurut Imam Ahmad bin Hambal, puasa syawal dapat dilakukan berturut-turut atau tidak, dan tak ada kelebihan antara cara pertama dan kedua. Pendapat lain menurut Imam Syafi’i dan Hanafi, lebih utama puasa Syawal dilakukan secara berturut-turut yaitu setelah hari raya. Lantas bagaimana jika puasa Ramadhan kita pernah bolong. Ijtihad para ulama, jika puasa Ramadhan hukumnya wajib maka menggantinya juga wajib, sementara puasa Syawal adalah sunnah. Maka lebih diprioritaskan mengganti Ramadhan terlebih dahulu ketimbang puasa Syawal. Tetapi ada pula yang berkomentar, untuk mengganti puasa Ramadhan dapat dilakukan di bulan-bulan lainnya selain Syawal, yang jelas sebelum Ramadhan datang lagi. Maka di bulan Syawal ditekankan untuk puasa enam hari. Tafadhal, argumentasi ini juga tidak salah. Penulis hanya menegaskan, kita tidak tahu kapan kematian menghampiri, maka seyogianya kita dahulukan amalan wajib.
Pemaaf dan Peminta Maaf
Tradisi saling memaafkan setelah Ramadhan hanya ada di Indonesia. Kata halal bi halal pun merupakan istilah yang muncul dari orang Indonesia. Tak akan kita temui dalam literatur arab. Jika anda menyaksikan televisi timur tengah tak ada iklan atau ucapan orang dan pejabat “minal aidin wal faaizin, mohon maaf lahir dan batin”. Budaya bermaafan adalah kebiasaan yang baik, tetapi hendaknya jangan menimbun dosa setahun kemudian baru meminta maaf. Lebih bijaknya beri maaflah orang lain sebelum mereka meminta maaf. Allah mengatakan “jadilah pemaaf dan lakukanlah yang ma’ruf dan jangan pedulikan orang bodoh” (Al A’rah: 199).
Abu Ja’far Muhammad ibnu Jarir At Thabari dalam Jami’ Al Bayan an Ta’wil Ayi Al Qur’an atau populer disebut Tafsir At Thabari berkomentar, ayat ini merupakan perintah Allah pada Muhammad agar memaafkan orang musyrik dan tidak bersikap keras pada mereka.
Pada ayat lain kita dapat merujuk pesan langit, “dan sesiapa bersabar dan memaafkan, sungguh itu merupakan hal yang diutamakan” (Asyuura: 43). Imam At Thabari menafsirkan kata “sabara” maksudnya bersabar terhadap perilaku buruk yang dialaminya, sedangkan kata “ghafara” artinya memaafkan orang yang berlaku buruk terhadapnya. Tanpa membela diri, padahal mampu. Kendatipun kita benar dan terdzolimi, kita tetap diperintahkan Allah untuk memaafkan kesalahan orang lain. Subhanallah. Memberi maaf berbeda dengan membiarkan kesalahan. Jika orang lain meminta maaf, lebih afdhal kita memaafkan dengan menasehatinya secara baik tentang kesalahannya agar tidak mengulanginya. Sebab, Allah pun lebih pemaaf terhadap kesalahan hambanya. Sebagaimana diriwayatkan Abu Dzar Al Ghifari, Nabi bertutur “sungguh Allah memaafkan dari umatku kesalahan, lupa, dan terpaksa” (H.R. Ibnu Maajah).
Manakah yang lebih utama antara memaafkan dan meminta maaf. Keduanya lebih utara, karena jika kita tidak mau meminta maaf, hal ini akan berpengaruh pada kondisi psikologis seseorang. Dia akan merasa berada di atas, tidak pernah salah, dan akan dipenuhi rasa sombong. Oleh sebab itu, meminta maaf juga merupakan amalan yang dianjurkan.
Menjadi pemaaf merupakan manifestasi meneladani sifat Allah Al Ghafuur (maha pengampun) dan karakter Nabi Muhammad yang pemaaf kendati ditolak dan dimaki dalam aktivitas dakwahnya. Berpijak dari sifat inilah jika kaitannya manusia bersalah pada Allah, dianjurkan memohon ampun dan bertaubat. Kalau bersalah dengan orang lain, maka harus diselesaikan dulu dengan meminta maaf agar Allah juga mengampuni kita. Wallahua’lam.
“Ya Allah, sungguh engkau maha pemaaf, menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku” (Dari Aisyah, H.R. Tirmidzi, Ibnu Maajah, Ahmad)
Vivit Nur Arista Putra
Aktivis KAMMI Daerah Sleman

Jumat, 03 Agustus 2012

Filosofi Puasa

Dimuat di Republika Jogja, Kamis, 3 Agustus 2012
Puasa merupakan medium ibadah mencapai derajat takwa. Demikian titah firmannya. Perkara orang menjadi badan sehat, itu dampak fisiologis. Bukan orientasi ibadah. Kita harus piawai membedakannya. Ada hadist “berpuasalah, niscaya kamu sehat”. Diriwayatkan At Tabrani dari Abu Hurairah dan Ibnu Adiyy dari Ali dan Ibnu Abbas. Kendati status hadist tersebut masih diperdebatkan para ulama. Tapi matan atau redaksi sabda Nabi dimuka terbukti kebenarannya. Ilmuwan barat yang faham ilmu anatomi tubuh dan fisiologi akan berpuasa karena menyehatkan.
Nalarnya, perut adalah salah satu organ tubuh yang tak berhenti bekerja semenjak lahir hingga kini. Inilah mengapa mungkin penyakit yang pernah dialami manusia adalah sakit perut. Ibarat mesin jika terus menerus bekerja tanpa rehat dan diperbaharui onderdilnya, akan rapuh dan cepat rusak. Begitupun perut di tubuh manusia. Tips untuk merawatnya bisa dengan puasa.
Berpuasa akan membuat lambung dan usus istirahat sejenak. Namun, jika anda berpuasa dengan niatan menyehatkan bukan karena Allah akan membuat aktivitas puasa menjadi sia-sia. Sebab niat merupakan rukun puasa, dan Allah hanya akan menerima pahala serta mengampuni dosa bagi orang yang berniat lurus puasanya.
Ramadhan disebut pula syahrullah(bulan Allah), karena setiap amalan puasa hanya untuk Allah. Syari’at puasa diturunkan pada tahun kedua hijriah, setelah Muhammad saw dan kaum Yahudi, Nasrani, dan paganis Madinah bersepakat menandatangani piagam Madinah. Perjanjian ini berisi kebebasan beragama dan melaksanakan ritual agama tanpa gangguan dari pihak lain. Sehingga secara sosial politik kondusif untuk melaksanakan puasa.
Di segi lain, aturan puasa diberlakukan dua tahun setelah hijrah. Jika hijrah merupakan langkah seleksi Allah untuk menguji kalangan Muhajirin apakah memilih Islam dengan pergi Madinah. Atau bertahan di Makkah karena cinta karib kerabat, harta, dan tanah. Maka puasa bertujuan memverifikasi ulang setiap muslim akan komitmennya terhadap Islam.
Menurut Sa’id Hawwa dalam Al Islam, puasa dilaksanakan pada bulan Ramadhan di tahun Qamariyah lebih pendek sepuluh hari dari tahun Syamsiyah. Sehingga kehadiran Ramadhan lebih cepat sepuluh hari dari Ramadhan sebelumnya. Jika seorang muslim sudah berpuasa 36 tahun, berarti dia telah berpuasa di seluruh macam hari dan aneka musim setiap tahunnya. Begitupun dengan makanan dan buah-buahan yang tumbuh pada musim tertentu. Maka manusia dilatih tidak makan buah-buahan yang berbuah pada waktu tertentu, sebaliknya hal ini menjadikan manusia memungkinkan memakan semua buah-buahan pada setiap Ramadhan yang dilaluinya.
Di bulan yang penuh berkah dan maghfirah ini, Muhammad saw menganjurkan memperbanyak membaca Al Qur’an, Shadaqah, dan amalan terpuji karena pahalanya akan berlipat. “Sesiapa berbuat bijak” kata Allah dalam Al An’am:160. “Mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya”. Rasulullah melengkapi “sesiapa puasa penuh di bulan Ramadhan ditambah enam hari di Syawal, maka setara dengan puasa setahun penuh”. Ibnu Qayyim dalam Zaa’dul Ma’ad mengkalkulasi, jika sehari puasa berpahal sepuluh berarti 30 hari dikali 10=300. Ditambah 6 hari dikali 10=60. Akhirnya 300+60=360 hari atau hampir satu tahun. Tidak sampai 365 hari karena ada hari lain yang pantang berpuasa yakni idul fitri, idul adha, dan hari Tasyrik (tiga hari setelah idul adha). Semoga puasa ini menjadikan kita generasi bertakwa yang memperoleh pencerahan batin (ghayat an nuraniyyah) dan menirkan naluri kebinatangan (al bahimiyyah) yang sempat menguasai diri.
Vivit Nur Arista Putra
Aktivis KAMMI Daerah Sleman
Direktur Eksekutif Lingkar Studi Muballigh

Sabtu, 07 Juli 2012

Era Baru Mesir

Dimuat di Republika Jogja, Kamis, 28 Juni 20 12
Sorot mata dunia internasional kini mengarah ke Mesir. Menangnya Muhammad Mursi yang diusung Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP) melawan Ahmad Shafik (Calon independen) dalam pemilu presiden 16-17 Juni 2012 mengakhiri dominasi militer selama 70 tahun di negeri piramida. Mursi memperoleh suara 13,2 juta suara (51,7 persen) sedangkan Shafik (mantan komandan angkatan udara dan perdana menteri Mubarak) mendapat 12,3 juta suara (48,3 persen) dari 25,8 juta pemilih.
Catatannya ialah kendati meraup suara rakyat terbanyak, tapi presiden Mesir terpilih tak ditopang dukungan legislatif. Sebab, setelah Mahkamah Agung membubarkan parlemen yang mayoritas diisi fraksi FJP dan An Nur Party, kini untuk sementara militer memegang kendali. Berdasarkan undang-undang darurat yang dikeluarkan Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF), selama belum ada tim ad hoc perumus undang-undang. Selain itu, presiden tak mempunyai otoritas penuh atas militer alias tak bisa lakukan intervensi. Aturan lain juga menyebutkan militer berhak untuk menangkap siapa saja yang membuat kerusuhan tanpa persetujuan presiden.
Ihwal ini sama saja tukar guling posisi pemerintahan. Jika sebelumnya rakyat membentuk parlemen jalanan melawan militer yang memegang eskekutif. Sekarang setelah rakyat sukses membawa Mursi sebagai presiden (eksekutif), kedudukan militer berpindah menjadi legislatif. Indonesia pernah mengalaminya ketika militer mempunyai dwifungsi yang dilegalkan orde baru. Imbasnya para tentara pun mempunyai pekerjaan ganda, menjadi tentara dan politisi. Padahal untuk negara demokrasi yang sehat, tentara harus ditempatkan secara profesional menurut tugas pokok dan fungsinya. Jika hendak menjadi politisi atau anggota eskekutif, legislatif, dan yudikatif tentara harus rela melepas karir militer agar tidak terjadi konflik kepentingan (conflict of interest). Tendensi dobel jabatan tersebut meliputi praktif bisnis dan proyek yang digarap dengan memanfaatkan uang negara.
Agenda mendesak yang sesegera mungkin dilakuan Mursi ialah menjadi presiden sipil pertama yang mengakomodir semua kalangan demi stabilitas nasional. Caranya dapat menempatkan tokoh-tokoh Mesir mapan yang sevisi untuk menduduki posisi strategis dalam kabinet. Orientasi terdekat tentu menciptakan stabilitas, keamanan, dan keadilan sosial agar kembali menarik minat investor untuk membangun usaha di negeri para Nabi itu untuk memutar roda perekonomian rakyat. Langkah lainnya ialah membangun komunikasi dengan mitra koalisi dan militer untuk menyusun undang-undang baru. Jika memungkinkan tentu undang-undang darurat perlu direvisi karena bertolak belakang dengan norma umum sistem pemerintahan demokrasi, di mana presiden berkuasa penuh atas militer sebagaimana pernah ditetapkan dalam undang-undang 1971. Urusan dalam negeri lain yang perlu diselesaikan yakni memastikan hak-hak kaum minoritas seperti kristen koptik terlindungi dengan memberikan keleluasaan beribadah dan menjalankan ritual keagamaan keseharian.
Pada bab kebijakan luar negeri banyak pengamat mengatakan akan banyak terjadi perubahan drastis, wabil khusus pada Amerika Serikat dan Israel. Jika rezim sebelumnya merupakan sekutu terdekat negeri paman Sam, kini pemerintahan Mesir tak akan mudah untuk didikte. Israel sebagai negera terdekat pun mulai cemas. Bahkan media massa setempat memuat headline “Kegelapan di Mesir” sebagai wujud rasa gentar jika “cahaya Islam” menerangi Mesir. Pintu perbatasan Raffah yang sebelumnya tertutup, mendatang akan terbuka untuk memperlancar lalu lalang pengungsi Palestina yang diserobot tanahnya oleh Israel. Posisi Mesir sangat strategis untuk mempengaruhi peta politik timur tengah. Sementara Mursi bukanlah malaikat yang dapat merubah Mesir dalam sekejap. Dibutuhkan solidaritas rakyat di segenap elemen sosial untuk berbenah bersama ke arah lebih baik. Ingat, revolusi belum berhenti jika militer masih membayangi.
Vivit Nur Arista Putra
Aktivis KAMMI Daerah Sleman

Indonesia Negara Gagal?

Dimuat di Merapi, Rabu, 27 Juni 2012
Sepekan terakhir pemerintah dibuat kebakaran jenggot dengan dipublikasikannya hasil survei Indonesia negara gagal. Survei dilakukan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asing Fund For Peace (FFC) tentang fail state index atau indek negara gagal menyimpulkan Indonesia berada diposisi 63 dari 178 negara. Penelitian menggunakan metodologi Conflict Assesment System Tool (CAST) yang telah dikembangkan dalam satu dekade terakhir. Negara paling gagal adalah Somalia. Sedangkan negara tersukses pengelolaannya ialah Finlandia disusul Swiss dan Denmark.
Adapun indikator yang digunakan lembaga independen nonprofit berbasis di Washingtong DC, USA, ini terdiri dari dua belas aspek; tekanan sosial, politik, isu pembangunan tak merata, pengungsian dan IDPs (Internally Displaced Persons), legitimasi negara, protes kelompok masyarakat, penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), aparat keamanan, intervensi eksternal, faksionalisasi elit, kemiskinan dan penurunan ekonomi, serta pelayanan publik.
Adanya survei yang mencoreng kredibilitas pemerintahan SBY-Boediono dijadikan bahan politisi oposisi untuk menyerang pemerintah. Secara substansi pemerintah diminta introspeksi diri dan melakukan evaluasi kinerja menyeluruh. Kendati sekadar informasi, namun jangan diremehkan karena angka di muka menunjukkan salah urus negara.
Jika ditelisik lebih detail, dari perspektif tekanan sosial yang meliputi angka kemiskinan mencapai kurang lebih 30 juta warga negara. Aspek politik menunjukkan 17 kepala daerah dari 33 kepala daerah di Indonesia terjerat korupsi. Selain itu, berdasarkan data Global Corruption Information 2005-2010 lima institusi paling korupsi ialah partai politik, parlemen, polisi, peradilan, dan dunia bisnis. Artinya dunia politik kita sangat kotor seakan praktik money politic, suap, jual beli pasal konstitusi telah membudaya.
Di sisi ekonomi, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia menanjak, tapi catatannya total utang juga turut naik mencapai 1800 trilyun rupiah. Lonjakan utang meningkat dua kali lipat lebih sejak lima tahun silam. Konflik sosial pun mengemuka di Lampung menyangkut persoalan agraria, Kalimantan Selatan lantaran distribusi kekayaan alam tak merata, dan konflik antar suku dan separatis di Papua. Benarkah Indonesia Negara Gagal?
Lantas dengan pelbagai permasalahan di atas, layakkah Indonesia diganjar dengan gelar negara gagal! Tentu publik harus melihatnya secara komprehensif, jangan parsial tahun ini saja. Agar khalayak memandang menyeluruh, berikut penulis sampaikan hasil riset institusi asing lainnya tentang Indonesia. Penulis bukan bermaksud membela pemerintah Indonesia, namun sebagai warga negara kita harus menggunakan akal sehat dan berpihak pada kebenaran dengan mengacu hasil penelitian yang valid dan terjaga integritasnya.
Fund For Peace (FFP) melansir selama enam tahun terakhir Indonesia mengalami perbaikan posisi dan menjauh dari indek negara gagal. Tahun 2006 Indonesia menempati posisi 32, 2007 ada di 55, 2008 nomor 60, 2009 naik dua digit menjadi 62, 2010 turun 61, 2011 dilevel 64, dan tahun ini turun satu angka menjadi 63. Dalam menjalankan pemerintahan di negara ASEAN menurut kajian Economist Intelligence Unit sejak 2006-2010 Indonesia mengalami progress dari 7,14 (2006) menjadi 7,5 (2010) atau masuk dua besar bersanding dengan Singapura. Fungsi pemerintah meliputi demokratisasi semakin baik, riset Freedom House (organisasi pers internasional) dengan proses penelitian berupa hak-hak politik dan kebebasan sipil menyimpulkan kebebasan pers pun meningkat dari 121 di tahun 2006 menjadi 107 (2010).
Prestasi kinerja ekonomi juga tak kalah kinclong. Badan Pusat Statistik (BPS) merealease pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,5 persen dengan pendapatan per kapita di atas USD3.500 yang merupakan titik penting bagi tranformasi perekonomian Indonesia. Dengan besaran produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp7.427,1 triliun (USD850 miliar). Angka ini termasuk besar mengingat rata-rata negara Eropa hanya mencapai 5 persen lantaran krisis utang yang melanda Yunani merembet ke negara lain. Tetapi sebagian kalangan berpendapat bahwa angka funtastis di atas terasa tidak adil karena 70 persen uang berputar di pasar finansial bukan di sektor riil. Jika benar utang 1800 trilyun untuk kesejahteraan rakyat pemerintah harus transapran dan akuntabel mengenai alokasi dananya.
Pada bab korupsi. Kontrol terhadap korupsi terlihat adanya perubahan signifikan. Kajian Worldwide Governance Indicators memaparkan sejak 2003-2008 mengalami kenaikan dari 16 menjadi bertengger di nomor 33 (dari 161 negara yang disurvei). Lembaga antikorupsi pun menjamur, seperti KPK, Pukat UGM, ICW, Pengadilan tindak pidana korupsi dsb. Data dari Transparency International (TI) juga menjelaskan kecenderungan membaik, mulai angka 1,7 (1999), menjadi 2,0 di tahun 2004 dan 2,8 di tahun 2010. Adapun uang negara yang berhasil diselamatkan KPK dari kasus korupsi mencapai 151 trilyun atau meroket drastis dari 2005 yang hanya 6,9 trilyun. Sedangkan dari gratifikasi 2005 mengembalikan ke negara 15 juta dan meningkat 1,7 trilyun di tahun 2010.
Data dari lembaga asing di atas mengindikasikan Indonesia menjauh dari ambang negara gagal. Jika mengalami penurunan satu tingkat dari tahun lalu, hal ini mungkin karena kasus kerusuhan di Papua, Lampung, dan Kalimantan Selatan tahun ini yang membuat nilai keamanan, protes kelompok masyarakat, dan tekanan sosial melorot. Namun dari keseluruhan indikator, Indonesia menampakan ikhtiar untuk bermetamorfosa lebih baik. Semoga konsisten demi perbaikan.
Vivit Nur Arista Putra
Peneliti Transform Institute UNY

Pendidikan Pancasila Melalui Keteladanan

Dimuat di Suara Karya, Jumat, 8 Juni 2012
Adalah niscaya 1 Juni ialah hari kelahiran Pancasila. Setiap tahun segenap khalayak memperingatinya. Namun, adalah kurang terasa jika acara tersebut sekadar seremonial belaka, tanpa berdampak sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kondisi terkini dipenuhi dengan pelbagai kekerasan, tawuran, demoralisasi elite dengan korupsi dan kolusi, serta amoralitas rakyat dengan main hakim sendiri. Seakan raib cara pandang yang digagas the founding father 67 tahun silam.
Pancasila yang disebut Soekarno sebagai the filosophie grondslag kini hanya menjadi semboyan tanpa pengamalan. Dalam sejarah rezim, peran negara untuk menanamkan Pancasila sebagai dasar negara kepada warga negara terlihat lebay atau berlebihan sehingga kontraproduktif dengan tujuan. Di era orde lama, Pancasila diinterpretasikan pemimpin besar revolusi dalam doktrin manifesti politik dan USDEK (U)UD 1945, (S)osialisme ala Indonesia, (D)emokrasi terpimpin, (E)konomi terpimpin, dan (K)epribadian Indonesia. Hal ini demi menyatukan nasionalis, agama, dan komunis yang sempat berdebat panjang atas gagalnya majelis konstituante yang bermandat merancang UUD baru menggantikan UUDS 1950. Karena kekecewaan inilah presiden pertama RI ini lantas mengumandangkan dekrit presiden 5 Juli 1959 dan menegaskan kembali ke Pancasila dengan demokrasi terpimpin. Besarnya pengaruh Soekarno dan tiada oposisi seimbang membuat Pancasila diterjemahkan seorang tunggal. Efeknya tak terjadi sisi interaktif dengan rakyat dalam proses pengajaran Pancasila.
Orde baru datang merevisi ide nasakom, karena komunis dianggap anti tuhan dan aspek ini bertentangan dengan sila keTuhanan yang Maha Esa. Pada segi pendidikan Pancasila kepada rakyatnya, Soeharto memberlakukan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Malangnya, P4 menerapkan metode indoktrinasi dan komunikasi satu arah dengan memposisikan negara serba benar. Wujudnya segala pemikiran dan asas organisasi yang bertolak belakang dengan Pancasila dianggap subversif dan layak diperangi. Kebijakan yang tidak memunculkan sisi dialogis dan komunikasi timbal balik antara negara dengan warga negara ini, malah berakibat tergerusnya nilai Pancasila itu sendiri.
Kata Pancasila memang tidak tertera dalam UUD 1945 dan pembukaannya. Namun, setiap presiden yang memimpin negeri ini terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, bersepakat ruh yang tertuang dalam prembule UUD 1945 yaitu lima sila merupakan jalan kemaslahatan berbangsa. Kontekstualisasinya langkah pengejawantahan Pancasila ialah melalui keteladanan sikap dan buah tutur yang sesuai. Inilah bentuk keteladanan yang harus dimulai dari elit bangsa hingga pemimpin daerah. Sebab, selama ini demoralisasi terjadi lantaran terjadi mismatch antara perkataan dan perbuatan pemimpin. Antara janji kampanye dan tidak terealisasinya saat menjabat.
Hemat penulis, aktualisasi nilai Pancasila bukanlah melalui bermegah mewah perhelatan acara hari Pancasila. Namun, melalui keteladanan punggawa negeri setiap harinya dengan menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidupnya. Dengan demikian secara tidak langsung, para pemimpin dan negarawan telah menyebarkan nilai pancasila melalui perilakunya. Muaranya masyarakat akan bersimpati untuk menirunya, karena dalam perspektif mereka nilai Pancasila abstrak dalam arti belum memahami sepenuhnya. Maka dibutuhkan pencontohan nyata yang diperagakan pemimpinnya. Akhirnya kebiasaan yang berulang-ulang inilah akan mengkristal menjadi karakter bangsa yang berlandaskan Pancasila. Semoga.
Vivit Nur Arista Putra
Direktur Eksekutif Pusaka Pendidikan UNY